MESIN WAKTU

Catatan Penulis:
Tadi udah gw kasih tulisan-tulisan yang indah
lalu mucul tulisan "aw snap" waktu gw balik dari pratinjau
baiqlaahhh 
mager mau buatnya lagi
-dari yang pusing setelah tabulasi


***


Mentari bersinar dengan terik. Jam hampir menunjukkan pukul satu siang. Siswa kelas X IPA 4 sudah bersiap-siap untuk menuju rumah mereka masing-masing. Dea tengah sibuk merapihkan buku-buku miliknya yang berantakan di meja. Ia membereskan bukunya dengan lebih cepat ketika melihat teman-temannya memandang jengkel padanya karena hanya ia sendiri yang masih sibuk berberes-beres ria. Lantuanan do’a kemudian terdengar. Tak lama setelah selesai, siswa mulai berebut keluar kelas.
“ Kita bukan anak SD kawan-kawan, tak perlu berebut keluar dari kelas.” Ucap sang ketua kelas, Faisal. Dea tertawa mendengarnya karena Faisal sendiri tengah sibuk mendorong teman-temannya agar dapat segera keluar dari kelas.
“ Dea , pulang yuk.” Ajak Reza, sahabat Dea.
“ Pulang? Bareng kamu? Ogah.” Sahut Dea sambil manyun.
“ Dea, kamu kenapa sih? Seminggu ini sinis amat sama aku?”
“ Pikir sendiri deh alasannya.” Dea tambah kesal.
“ Dea…. Kenapa sih?”
“Nggak tau. Udah, pulang sana.” Kata Dea dengan nada agak tinggi.
“ Udah pulang yuk.” Ucap Reza sambil menarik tangan Dea, membawanya keluar kelas.
“ Ih, iya, aku pulang. Udah sana kamu jalan duluan, aku dibelakang.” Dea berucap sambil cemberut.
“ Eh kok gitu? Biasanya bareng jalannya.”
“ Udah, aku lagi nggak mau deket-deket sama kamu. Sana jalan duluan.” Perintah Dea.
“ Iya deh iya,” Ucap Reza pasrah. Reza dan Dea berjalan pulang beriringan. Rumah mereka yang terletak tidak begitu jauh dari sekolah membuat mereka lebih sering berjalan kaki untuk menuju ke rumah. Dea berjalan tidak terlalu jauh  di belakang Reza. Wajahnya masih masam.
“ Dasar orang nyebelin. Tak berperasaan. Udah gitu, nggak tau kesalahannya dimana. Parah.” Dea mengomel sendiri.” Hari selasa kemaren itu ulang tahun aku tau. Ini udah hari sabtu. SABTU. Udah berapa hari? Jahat banget sih sampe lupa. Aku kan nggak pernah lupa hari ulang tahun kamu. “ Dea kembali mengomel.
“ Dea.” Panggil Reza yang tiba-tiba berbalik.
“ Hah? Apa? “ tanya Dea dengan sedikit terkejut.
“ Kenapa sih kamu marah-marah terus ? “ Tanya Reza.
“ Nggak tau ah.”
“Ih Dea, aku penasaran tau.”
“ Bodo amat.” Sahut Dea kesal.
“ Dea, kenapa sih? “ tanya Reza sambil mencoba mengejar Dea yang berjalan semakin cepat.
“ Ih nggak tau. “
“ Kalo nggak tau kenapa marah ? “ Reza bertanya lagi.
“Ih, susah ngomong sama kamu. Eh, aku udah sampe, duluan. Dah…” Dea berkata sambil mempercepat langkahnya menuju rumahnya.
Reza memandang sahabatnya yang hilang di balik pintu rumahnya. Ia kemudian menuju rumahnya yang terletak di sebelah rumah Dea. Ia segera menuju kamarnya. Kemudian ia sibuk mengobrak-abrik laci lemarinya.
“ Dicariin juga, kemana aja sih?” Ucapnya saat menemukan benda yang dicarinya.
Di rumah, Dea tengah berbaring di ranjang. Memandangi langit langit kamarnya. Wajahnya masih masam. Entah mengapa ia kesal sekali karena Reza melupakan ulang tahunnya kali ini. Padahal ia tak semarah ini ketika Reza lupa hari ulang tahunnya dua tahun yang lalu. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Nama Reza muncul di layar ponselnya.
“ Anak ini… Ngapain lagi sih?.” Ucap Dea sambil memandangi layar poselnya.
“ Dea, lagi apa? “ Reza memulai pembicaraan.
“ Bernafas.” Jawab Dea pendek.
“ Kalo itu mah aku juga tau.”
“ Kalo udah tau ngapain tanya? Lagian, nggak penting banget sih tanya lagi apa.”
“ Dea, kamu kenapa sih, marah-marah terus. Udah gitu nggak jelas lagi sebabnya. Aku itu udah coba sabar dari kemaren-kemaren. Eh, kamunya malah tambah aneh.”
“Kamu bilang nggak jelas sebabnya? Nggak jelas sebabnya? Kamu tuh yang aneh. Kamu yang salah, eh aku yang dimarahin.”
“ Oke, kalo gitu salahku apa? Dasar anak aneh. Marah-marah tanpa sebab.”
“ Nggak tau ah pusing. Udahlah males ngomong sama kamu.” Ucap Dea yang lalu menutup telepon.
“ Dasar anak nyebelin.”  Dea kembali mengomel. Ia lalu kembali merebahkan tubuhnya diranjang. Angin sepoi-sepoi yang masuk lewat jendela kamarnya seakan membisikkan lagu nina bobo untuknya. Ia pun mulai tertidur.
“ Deaaaaaa…” Kakaknya Aditya, dengan suaranya yang sama sekali tidak merdu berteriak-teriak di depan kamar Dea. Membuat Dea yang baru terlelap dengan sangat terpaksa terbangun. Ia kemudian membuka pintu kamarnya.
“ Abaaaaang, apaan sih teriak-teriak di depan kamarku? Ada kebakaran? Gempa bumi? Gunung meletus? Hah? “ Dea mencak-mencak.
“ Nggak, ada Reza tuh.” Ucap kakaknya dengan suara pelan.
“ Iiih, anak itu lagi. Ganggu mimpi indahku aja.” Kata Dea sambil menuju ruang tamu.
Di ruang tamu, Reza yang tengah duduk tersenyum melihat kedatangan Dea. Dea langsung memasang tampang marah.
“ Dea, masih marah ya? “ tanya Reza.
“Kenapa kesini? Masih belum puas marah-marahnya tadi? “ tanya Dea sinis.
“ Udah. Lagian aku nggak marah kok.”
“ Terus tadi itu apa? Lagi bercanda?”
“ Enggak, lagi bersandiwara.” Ucap Reza, kemudian ia tertawa kecil. Dea mengerutkan keningnya. “Nih, buat kamu.” Reza menyerahkan benda yang tadi dicarinya di laci lemarinya. Sebuah kotak berwarna hitam, tutup kotaknya berwarna putih. Pita cantik berwarna pink menghiasi kotak itu.
“ Apa ini?” tanya Dea.
“ Aku pulang ya. Dah.”Reza mengacuhkan pertanyaan Dea dan pulang kerumahnya. Saat ia sampai teras rumah Dea, ia memandang ke dalam sebentar, lalu berbalik dan tersenyum.
Sementara itu, Dea memandang bingung kotak yang ada di tangannya. Ia lalu menuju ke kamarnya. Mengunci pintu kamarnya, duduk di ranjang, dan mulai membuka kotak yang diberikan Reza. Benda pertama yang ia lihat saat kotak terbuka adalah kertas putih yang berbentuk perahu. Ia memperhatikan kertas itu dan melihat ada banyak sekali kata yang tertulis di kertas itu. Ia lalu membuka lipatan kertas dan mulai membaca.
Untuk Dea
Dea, selama satu minggu ini, aku sangat sibuk melakukan berbagai percobaan dirumahku, dan kamu tahu? Aku berhasil menciptakan sebuah mesin waktu yang berbentuk kertas. Kertas itu sekarang ada ditanganmu, yang torehan tinta di atasnya sedang kau baca. Kau pasti tidak percaya kan?
Mesin waktu ini mulai berfungsi saat kau membaca tulisan yang ada di kertas ini. Jadi, sekarang kau tengah berpetualang melintasi waktu. Aku telah mengatur waktu yang akan jadi tujuan pertamamu. Dea, sekarang kau berada pada tanggal 12 maret 1997. Hari dimana kau lahir kedunia ini. Selamat lahir ke Dunia Dea. Kamarmu tidak berubah ya? Aku memang mengatur agar suasana di sekelilingmu tidak berubah.
Sekarang kau akan melanjutkan perjalananmu, Kini kau tiba di hari ulang tahun pertamamu. 12 maret 1998. Selamat untuk ulang tahunmu yang pertama Dea. Ku beri tahu ya? Mesin waktu ini terus berkerja dan ia akan berhenti setiap tanggal 12 Maret . Setelah ini, ia akan berhenti pada tanggal 12 Maret 1999, 12 Maret 2000, 12 Maret 2001, 12 Maret 2002, 12 Maret 2003, 12 Maret 2004, 12 Maret 2005, 12 Maret 2006, 12 Maret 2007, 12 Maret 2008, 12 Maret 2009, 12 Maret 2010, 12 Maret 2011, 12 Maret 2012, dan yang terakhir, 12 Maret 2013, hari selasa kemarin, di hari ulang tahunmu yang ke-16 tahun.
Jadi, Selamat untuk ulang tahunmu yang ke-2, Selamat untuk ulang tahunmu yang ke-3, Selamat untuk ulang tahunmu yang ke-4, Selamat untuk ulang tahunmu yang ke-5, Selamat untuk ulang tahunmu yang ke-6, Selamat untuk ulang tahunmu yang ke-7, Selamat untuk ulang tahunmu yang ke-8, Selamat untuk ulang tahunmu yang ke-9, Selamat untuk ulang tahunmu yang ke-10, Selamat untuk ulang tahunmu yang ke-11, Selamat untuk ulang tahunmu yang ke- 12, Selamat untuk ulang tahunmu yang ke- 13, Selamat untuk ulang tahunmu yang ke-14, Selamat untuk ulang tahunmu yang ke-15, dan yang terakhir, Selamat untuk ulang tahunmu yang ke-16.
Aku mengucapkan selamat ulang tahun untukmu tepat pada tanggal 12 Maret kan? Jadi, aku tidak lupa kan? Jangan marah lagi Ok? Selamat ulang tahun. 

Reza
Catatan : Dea, saat aku bertanya bahwa kau pasti tidak percaya bahwa aku menciptakan mesin waktu berbentuk kertas ini, aku sangat berharap kau menjawab iya, Karena, Dea, aku tidak pernah melakukan percobaan apapun hehehe. Selamat ulang tahun. 

Dea tersenyum memandang kertas yang ada di tangannya. Ia lalu melihat kembali kotak yang di berikan Reza padanya. Sebuah jam berbentuk baju, berwarna hitam putih, warna kesukaannya ada di sana. Ia lalu tersenyum lagi mengingat apa yang telah “diciptakan” sahabatnya, sebuah mesin waktu.
Ia lalu dengan cepat meraih ponselnya, mengetikkan sebuah sms untuk Reza.
Terimakasih 
Tak lama kemudian ponselnya berbunyi. Reza membalas smsnya. Dea membacanya lalu tersenyum, Ialu membaca surat dari Reza sekali lagi. Meletakkan Jam berbentuk baju itu di atas meja yang terletak di samping ranjang, dan kembali memandang ponselnya. Membaca kata-kata yang tertulis disana.
Ok. Selamat Ulang Tahun. Kau orang pertama yang “menjelajahi waktu”. Selamat. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepatah Kata Untuk Rasa Tanpa Suara

DAY

My Story