A Letter
Lewat
kata kuceritakan hidupku, pada kalimat kukatakan rasaku.
Kalimat yang peduli
akan ketidakpedulianmu, dengan mereka aku bicara tentang dirimu.
Kata
yang diam tapi mahir berbicara, biarkan mereka yang mengatakan kepadamu bahwa
aku ada.
Neptunus
Mentari
sudah sedari tadi muncul. Sinarnya yang hangat masuk menerobos jendela-jendela
kaca membuat suasana kelas menjadi nyaman.
Iva tengah duduk di kursinya, memperhatikan tingkah teman-temannya dan sesekali
tertawa. Itu sudah seperti kebiasaan baginya jika hatinya sedang gundah.
Melihat perpaduan tingkah teman-temannya yang berbeda sifat menjadi hiburan
tersendiri baginya.
Ada Tamyizul
si leader kelas, Arif yang kocak, Aji magnae yang kece, Yudha yang soknya minta
ampun tapi juga lucu, Tajudin yang pasti jadi bahan bully, Bima yang kalo
ngomong suka buat orang bengong karena bingung, Yoga yang pendiem, Kiki yang
cerewet juga orang paling jail di kelas, Raifa yang suka banget debat sama
mereka semua, Hadi yang sering dijadiin penengah masalah tapi juga
kadang-kadang rada usil, Nindy si Ratu Gosip juga temen-temen yang lain dengan
sifat masing-masing, dan ketika mereka semua berkumpul dan berbincang, itu seperti
menonton drama tanpa naskah, spontanitas, tapi bagi Iva drama mereka sempurna dan
selalu sukses membuatnya tertawa. Ini
kelasku, ruangan yang sudah seperti rumah, dan teman-teman yang begitu dekat
layaknya keluarga, batinnya. Ia begitu bersyukur ditakdirkan untuk berada
dikelas ini, XII IPA 1 atau yang sering mereka sebut Rantai Api.
Ia lalu
teringat percakapan teman-temannya di grup BBM semalam. Kegilaan teman-temannya
ketika harus ulangan Fisika ditengah TO yang menyapa. Percakapan sederhana,
tapi ia tahu akan merindukan percakapan semacam itu suatu saat nanti.



“ Makasih ya bang,” ucapnya pada
Tamyizul, yang tadi memanggilnya saat Iqbal lewat di depan kelasnya. Itu sudah
seperti kebiasaan bagi teman-temannya jika Iqbal ada di sekitar mereka. Itu
semacam pemberitahuan untuknya.
“Okeeeh.” Sahut Tamyizul.
“ Ivaaa, aku di acc sama Iqbal
loh” ucap Rani yang tiba-tiba menghampirinya.
“Hiiiii iya tah Ran?” Iva
manyun.
“Sumpah.” Jawab Rani yang
kemudian menunjukkan kontak BBM-nya. Terlihat nama Iqbal di sana,
“Hiiii iyaaaa. Hwaaaa Rani di
acc. Minta pin nya Ran.”
“Kamu sih, udah invite dia,
pake dibatalin, terus sekarang minta pinnya lagi, makanya ga usah sok move on.”
Ucap Rani meledek.
“Lah abis, aku invite ga di
acc, kan aku sebel, ya udah aku mau move on.” Iva berusaha membela diri.
“Kaya bisa move on aja Va,”
Raifa tiba-tiba nyeletuk.
“Iyaaaaa, aku ga bisa move on,
udah tu aku ngaku. Mana pin nya Ran?”
“Nih,” Rani menyodorkan
HP-nya.
“Kalo ga di acc lagi gimana
cobaaa..” Kata Iva sambil mengetikkan pin Iqbal di HP-nya.
“Jangan suudzon dia ga mau acc
kamu Va, tapi...” ucap Rani Dwi Hapsari yang biasa di panggil Hap.
“Nah, tapinya ini yang bikin
ga enak.”ucap Iva
Hap tertawa lalu berkata “
Mungkin dia tau itu kamu terus ga mau acc, biar kamu ga tambah suka. Mungkin
dia takut sama kamu.”
“Tuh kan Haaaaaaap” Iva
tertawa sambil mengambil botol AQUA kosong yang ada di dekatnya lalu mendekati
Hap yang berlari menjauh, menghindari pukulan Iva. Iva tertawa, tapi hatinya
tak keruan. Ia tahu besar kemungkinan itulah penyebabnya. Inbox-nya di Facebook
pun dianggap layaknya koran. Hanya untuk dibaca. Tak ada alasan untuk dijawab.
Sakit memang. Tapi menjauh dan melupakan perasaannya pada orang itu ia pun tak
bisa. Tak pernah ada kenangan untuk dilupakan. Tak ada kata istimewa yang harus
diabaikan. Tapi entah mengapa, Iqbal, seperti satu-satunya dihidupnya saat ini.
Kemudian sebuah lagu terdengar, seperti biasa, sumbernya HP milik temannya,
Puji.
Setidaknya diriku pernah berjuang
Meski
tak pernah ternilai di matamu
Lirik lagu yang terdengar
seolah pesan untuknya, bahwa setidaknya, dia pernah berjuang untuknya.Ia lalu
melihat-lihat kontak BBM-nya, berharap nama Iqbal dalam waktu dekat muncul di
sana. Ia masih sibuk dengan HP-nya ketika terdengar pengumuman
“Bagi siswa siswi yang
mengikuti paduan suara harap segera berkumpul di Aula. Sekali lagi, bagi siswa
siswi yang mengikuti paduan suara harap segera berkumpul di Aula”. Iva kemudian
segera menuju mejanya untuk mengambil teks lagu.
“Ciee Iva dapet Golden Ticket
lho, mau ke Jakarta ya Va?” Ucap Yudha.
“Kamu mau ke Jakarta apa Va?”
Aji bingung. “ Emang Iva mau ngapain ke Jakarta Yud?”
“Itu lho Ji, paduan suara”
jawab Yudha dengan mimik serius.
“Beneran apa Va?” tanya Aji.
“Ngga ding. Yudha aja lebay.
Orang Cuma buat upacara doang kok. Mana ngga nyambung lagi. Ngapain coba ke
Jakarta. Dasar ding Yudha ini.” Iva tertawa.
“Cieee Iva sendiri lho yang
kepilih paduan suara dari IPA 1” Aji meledek.
“Lo orang aja yang ngga mau
ikut tes. Ngga kasian apa lo orang gua sendirian disana?” Ucap Iva sambil
melangkah ke luar kelas.
“Selamat ya Vaa” kata Aji.
“Apaan sih Ji? Lebay” Ujar
Iva.Tawanya masih terdengar. Ia lalu berjalan menuju Aula. Ketika ia melewati
lapangan basket ia melihat Iqbal sedang melakukan pemanasan bersama teman
sekelasnya. Hari rabu, dia olahraga,
batinnya. Ia terus berjalan ke Aula sambil sesekali mencuri pandang ke arah
Iqbal, takut jika Iqbal mengetahuinya. Walau ia tahu sosok itu tak pernah
peduli. Tak pernah.
Sudah banyak siswa yang
berkumpul di Aula ketika ia sampai. Ia lalu menghampiri beberapa anak yang satu
grup dengannya. Grup Alto, lalu mencoba bernyanyi bersama. Mencoba mencari nada
mereka. Grupnya sering sekali salah ketika bernyanyi. Itu membuatnya sedikit
tak enak kepada grup yang lain karena harus mengulang lagu dari awal.
Setelah beberapa kali
bernyanyi, salah satu guru pembimbing memperbolehkan mereka semua beristirahat
karena pelatih mereka belum datang. Para siswa pun bergegas menuju kantin. Iva
hanya kebingungan. Ia tak memiliki teman dekat di sana. Ia satu-satunya
perwakilan dari kelasnya. Ia hanya sebentar-sebentar memandang beberapa siswa
yang tetap berada di Aula lalu melihat siswa lain yang pergi ke kantin. Mereka
pergi dengan rombongan kelas masing-masing.
“Hayooo... ngga punya temen
yaa?” Wita menegurnya sambil tersenyum.
“Iyaaaa.” Ucap Iva sambil
tertawa.
“Sini-sini.” Velli menarik
tangan Iva. Akhirnya Iva bergabung dengan rombongan kelas XII IPS 1. Ia kenal
banyak siswa dari kelas itu, tapi tidak terlalu dekat. Hanya sebatas tahu nama
mereka dan sesekali menyapa ketika bertemu atau terkadang di BBM. Mereka lalu
menuju ke Kantin. Iva mengambil tempat duduk menghadap lapangan basket. Dari
situ ia bisa melihat Iqbal bermain futsal. Untuk memperhatikan Iqbal dari jauh,
Ia tak pernah bosan. Itu memberikan ketenangan tersendiri baginya. Semangatnya
bisa tiba-tiba datang bahkan hanya karena Iqbal lewat di depan kelasnya. Aneh
memang. Tapi itu kenyataanya.
. . .
Siang ini udara begitu panas.
Mungkin karena musim hujan yang mulai menyapa akhir-akhir ini. Iva masih ingat
perkataan guru pembimbing olimpiade kebumian yang pernah ia ikuti. Awan
Cumulonimbus yang memantulkan kembali panas bumi yang menguap membuat udara
menjadi panas. Yah walau pun ia hanya bisa mendapatkan peringkat 5 ketika tes
kabupaten, setidaknya ia bisa mendapatkan pengetahuan semacam itu. Latihan
paduan suara telah berakhir sedari tadi. Menyanyikan beberapa lagu
berulang-ulang cukup membuatnya lelah.
“Cieee Ivaa...” Aji yang
melihat Iva kembali dari latihan paduan suara langsung bersuara.
“Kaya mana Va nyanyinya?
Nyanyi lagu apa aja?” Tanya Hap.
“Tadi latihan Tanah air ku
tidak kulupakan sama sayang-sayang si patokaan. Ngomong-ngomong itu dua lagu
judulnya apaan sih?” ucap Iva sambil tertawa.
“Lah si nyanyi ngga ngerti
judulnya apaan. Kamu suara berapa Va?” Tanya Puji.
“Suara dua” jawab Iva.
“Emang ada berapa suara si
Va?” Aji penasaran.
“empat.”
“Haaa” Aji sok kaget. Iva
hanya tertawa. Ia lalu duduk di kursinya dan membuka kotak bekalnya. Sesaat ia
terdiam memandang kotak bekalnya. Kotak
bekal ini pernah nginep di kamarnya Iqbal semalem, batinnya. Ia pernah
memberi Iqbal donat, dan kotak bekal itu ia gunakan sebagai tempat
donatnya.Donat buatannya. Lalu ia tersenyum. Ia pun mulai menyantap makan
siangnya.
“Hiis, benci gua sama yang
ngambil beng-beng yang buat pak Ian. Nyolong kok di kelas orang yang nggak
punya etika.” Ucap Raifa yang baru memasuki kelas. Kelas mereka memang sempat
terkena masalah karena seleksi paduan suara. Kabar yang beredar, kelas mereka
di cap sebagai kelas tak beretika. Diluar kenyataan bahwa itu adalah karena
tingkah mereka semua yang kekanakan, mereka “tak beretika”.
“Beng-beng yang kemaren hadiah
lomba kelas itu Fa? Ditaro mana emang? Kan udah di kasih ke Pak Ian sih?” Tanya
Tajudin.
“Iyaaa, Ditaro lacinya lita.
Emang udah dikasihin, tapi kan dibalikin lagi sama bapaknya. Padahal udah gua
relain itu beng-beng buat Pak Ian wali kelas kita, malah diambil orang.” Raifa
mengomel.
“His, benci gua sama yang
ngambil beng-beng, ngambil kok semuanya, serakah amat. Satu aja ngga bisa apa?”
Ucap Tajudin.
“Gua lebih benci sama yang
naro di laci. Diambil orang kan jadinya?” Aji nimbrung.
“Iyaa benci gua sama orang
jahat” Tajudin menyahut.
Iva tertawa mendengar
pembicaraan mereka. Lelahnya sejenak pergi. Pembicaraan yang hanya disebabkan
beng-beng yang jumlahnya tak lebih dari sepuluh. Hal sepele tapi dengan asyik
mereka bicarakan. Dengan intonasi beragam, ekspresi yang bermacam, cara unik
mereka untuk membuat yang mendengar tertawa. Bersyukur untuk hal yang kau miliki Iva, teman seperti mereka yang
pasti suatu saat nanti kau rindukan, yang menjadi penyebabmu tertawa. Mereka
tak seperti dia yang menjadi penyebabmu bersedih, Iqbal Arnanditnya,
batinnya.
. . .
“Raifaaaaaaaaa...” Iva yang
baru memasuki kelas langsung berteriak memanggil sobatnya Raifa yang masih
mengobrol dengan anak kelas lainnya. Sabtu ini adalah hari libur, tapi mereka
diharuskan untuk berangkat sekolah karena lomba pramuka yang dilaksanakan di
sekolah mereka. Mereka harus mengikuti Apel Pramuka untuk menyambut tamu dan
peserta lomba yang datang dari berbagai sekolah. Yah..kurang lebih itulah
alasannya.
“Kenapa? Iqbal lagi?” tebak
Raifa yang seolah paham dengan apa yang akan ia bicarakan.
“Sini geh,” Iva menarik Raifa
ke belakang kelas. “Raifa, masa aku belom di acc juga sama Iqbal, apa maksudnya
coba?”
Iva mulai bercerita.
“Iya tah?”
“Iyaa, faa... mana aku dapet
kabar Nindy tidur di kamarnya Iqbal coba semalem. Gara-gara lembur jadi
panitia. Ampun,
envy berat aku sumpah. Iqbalnya katanya malah tidur di sekolah. Terus dia juga kirim
fotonya Iqbal sama adeknya kak Liza, foto berdua lho fa, langsung
ngga bisa tidur aku.
Maulida foto sama Iqbal waktu hari batik itu udah cukup banget buat aku,
ini malah di tambah kaya gini coba lah” cerita Iva panjang lebar.
“Iya
ya Va, mana Maulida foto sama Iqbalnya banyak bener lagi, di upload di facebook
pula, sok tulisannya ‘Cuma ngefans doang kok’.” Ujar Raifa.
“Aku
sih nggak percaya dia cuma ngefans doang.” Ucap Iva.
“Aku
juga nggak percaya kamu cuma ngefans doang sama Iqbal” kata Raifa sambil
tertawa. Iva pun lalu tertawa. Tawa yang hambar.
“Mana
ada temennya yang kayanya seneng banget banget Iqbal foto berdua sama Maulida
waktu hari batik ituu.”Mata Iva mulai berkaca-kaca.
“Jangan
nangis geh Va”
“Ya
kaya mana ya Fa, rasanya campur aduk banget. Aku emang bukan siapa-siapanya dia,
tapi rasanya itu sakit banget. Nyesek sumpah” Iva mulai meneteskan air mata.
“Udah
jangan nangis, itu Apel nya udah mau mulai, ke lapangan yok lah. Jangan galau
terus.” Ajak Raifa. Iva lalu menghapus air matanya dan menuju ke lapangan. Apel
sebentar lagi dimulai. Peserta dari sekolah lain mulai berdatangan, begitu juga
dengan tamu undangan. Beberapa rombongan anak SD berseragam pramuka lengkap
datang menuju lapangan Apel. Iva tertawa melihat mereka. Mereka tampak lucu dan
imut mengenakan seragam pramuka lengkap. Kemudian pandangannya beralih pada
barisan panitia lomba. Tak butuh waktu lama baginya untuk menemukan sosok itu,
Iqbal. Selamat pagi, semangat panitia
mading, batinnya. Matanya tak lepas dari sosok itu. Senyumnya, cara
bicaranya, tawanya.
“Iqbal
jadi yang baca dasa dharma tau Va.” Hadi yang berbaris di sebelahnya tiba-tiba
bersuara.
“Iyatah
Di? Tapi kok dia baris di barisan panitia?” Tanya Iva.
“Liat
aja nanti. Tuh kan dia pindah ke depan. Di bilangin kok ngeyel kamu itu.”
“Ya maap
sih Di.” Ucap Iva sambl tertawa. Ia lalu mengambil HP-nya dan beberapa kali
mengambil foto Iqbal. Tak lama Apel Pramuka di mulai. Sesaat sebelum pengucapan
Dasa Dharma, Iva kembali mengambl HP-nya. Iva ingin merekam suaranya. Suaranya
adalah hal langka. Untuk mendengarnya pun hanya pada saat tertentu. Ini salah
satunya. Karena itu Iva merekamnya agar bisa ia dengarkan kapan pun ia mau.
Ada
akhir untuk semua yang memiliki awal. Apel pun selesai. Iva segera kembali ke
kelasnya.
“Iva..”
Sebuah suara menghentikan langkahnya. Ia kenal suara itu. Nama pemiliknya Alza,
dia temannya yang tinggal satu kosan dengan Iqbal. Banyak informasi tentang
Iqbal yang ia dapat darinya. Beberapa hari yang lalu ia menanyakan nomor HP
Iqbal, ia hanya ingin mengucapkan kata “semangat” lewat sms. Pasti kali ini
Alza ingin menyampaikan sesuatu menyangkut itu.
“Kenapa
Za?”
“Tadi
gua udah coba beraniin ngomong minta nomor ke dianya langsung tapi jawabannya
dia nggak ada HP.” Ucap Alza polos.
“Iya
tah Za? Ya udah deh mungkin dia emang ngga ada HP. Makasih ya Za.” Kata Iva
sambil tersenyum.
“Okee.”
Ucap Alza sembari pergi.
Iva
lalu berlari menghampiri teman-temannya yang telah jauh di depan. Larut dalam
canda dan tawa walau hatinya tengah dalam keadaan yang sebaliknya. Pin yang aku dapetin kemaren itu punya siapa
kalo kamu nggak ada HP? Kamu bisa bilang nggak mau kasih no. HP kamu Bal, aku
nggak mau kamu bohong, ucapnya dalam hati.
. . .
Lagu “I
Choose to Love You” yang dinyanyikan Hyorin SISTAR mengalun lembut melalui
earphone. Jam menunjukkan pukul 00.24. Iva belum juga memejamkan matanya.
Kata-kata Alza pagi tadi masih terngiang jelas di telinganya. Ia masih ingat
Nindy pernah bilang ia melihat Iqbal berbicara di telepon entah dengan siapa.
Ia juga pernah membaca status Maulida yang kira-kira bunyinya “emang sih
dibalesnya cuma tiga kali, tapi kesannya banyak banget.” Feelingnya berkata itu
berkaitan dengan Iqbal. Semua itu secara tersirat mengatakan bahwa Iqbal
mempunyai HP.Tapi, ah entahlah.
Iva
sadar ia tak seharusnya berharap. Ia tahu kali ini, ia hanya akan merasakan
sakit. Iqbal selama ini menghindarinya. Ia tahu itu. Invitenya yang tak kunjung
di acc, itu pasti pertanda. Iva lalu mengambil beberapa lembar kertas dan pena.
Ia mulai menulis.
Dear Iqbal Arnanditya...
Apa
kabarmu?
Do’a
yang selalu kubisikkan untukmu seharusnya membuat kabarmu sehat dan baik saja
Aku
menulis surat lagi untukmu, berharap kamu mengerti ini, berharap kamu mengerti
aku merindukanmu, meski kau tak pernah tahu dan membacanya
Aku tau, yang mengagumimu... bukan hanya diriku. Aku
mungkin hanya salah satu sosok yang terus berada di sekelilingmu diantara
banyak sosok itu. Layaknya planet neptunus kepadamu, sang matahari. Aku hanya
satu planet yang berada jauh darimu, tapi terus berada disekitarmu. Aku mungkin
bukan planet Merkurius yang sanggup berada di dekatmu dan mampu menahan
panasmu. Aku bukan Venus, “sang bintang senja”. Aku juga bukan Bumi, planet
istimewa, dengan kehidupan di dalamnya. Aku bukan Mars si planet merah, Yupiter
si Raja Planet, Saturnus planet cantik bercincin, apalagi Uranus planet biru
yang indah. Aku Neptunus, planet terjauh darimu, tapi yang tetap berkeras untuk
terus berada di sekitarmu. Walau tau jarak ini tak mungkin menjadi dekat, tapi
aku, Neptunus, akan selalu berada disekitarmu. Dan kau Sang Matahari,
membiarkanku berada di sisimu, dan hanya melihatmu.
Masjid sekolah. Itu adalah tempat dimana aku pertama kali
melihatmu, dan sekaligus menjadi tempat di mana aku bisa melihatmu dihari-hari
selanjutnya. Saat pertama kali aku melihatmu, Aku hanya berfikir kalau kau
adalah sosok yang istimewa, keteduhan wajah dan mata itu...aku tak bisa
melupakannya.
Aku tak tahu mengapa rasa ini datang, dan jujur, aku tak
pernah memintanya untuk hadir. Tapi aku harus bagaimana ketika Tuhan menitipkan
rasa itu diantara kita?
Ketidakpedulianmu tak pernah membuatku berhenti menyukaimu.
Mengamatimu dari jauh, memperhatikan semua gerak-gerikmu, mengagumi senyum dan
tawamu, menanti detik-detik ruku’ dan sujudmu, aku tak pernah bosan. Bahkan
untuk memperhatikan caramu memakai sepatu, menghitung langkah kepergianmu, aku
tak pernah bosan.
Aku hanya ingin kau tahu itu...
Mungkin kamu tak mengerti rasanya ,
Ketika ingin menyapa, tapi tak pernah memiliki cukup kata
berani
Ketika ingin mendekat, tapi hanya bisa melihatmu pergi
Aku berulang kali merasakannya. Bahkan untuk sekedar
menyapapun aku tak sanggup. Hanya lewat kata yang diam tak bersuara aku
menyapamu. Lewat untaian do’a kutitipkan kabarmu. Lewat surat yang tak pernah
kau baca ini aku berbincang denganmu.Kata-kata berakhir tanda tanyapun hanya
bisa kutuliskan disini untukmu...
Apa kau bisa melihatku menunggu di sini?
Mengapa kau terus berusaha untuk pergi?
Kurasa aku tahu dan mengerti jawaban akan pertanyaan itu,
tapi entahlah, hatiku terus berkata, bahwa bukan itu jawabannya. Hati. Dia memang
selalu menyusahkanku. Membuatku berharap pada yang tak semestinya.
Kamu, yang mendengar semua kata tapi tak pernah menoleh
pada yang tengah berbicara...
Kamu, sosok tak sempurna tapi begitu bermakna...
Aku iri pada orang yang bisa dengan leluasa memandangmu
setiap hari. Aku iri pada mereka yang bisa dengan mudah berbincang denganmu.
Aku iri pada mereka yang kapanpun bisa mendengar suaramu, tawamu. Aku iri pada
mereka yang setiap waktu bisa menikmati senyummu. Aku iri pada mereka. Bagi
mereka itu mungkin hal biasa, tapi bagiku, itu adalah hal istimewa yang tak
bisa kudapatkan dengan mudah.
Bal...
Setiap langkah yang tak pernah kau hitung, aku menyukainya.
Setiap senyum yang tanpa sadar kau lukis, aku merindukannya. Setiap tawa yang
tak pernah ku dengar, aku mengaguminya. Kamu istimewa.
Sejujurnya, aku pun tak mengerti mengapa aku menuliskan
kata-kata ini. Kata yang sebenarnya tak bisa mengatakan apa yang aku rasakan.
Ini hanya tersasa seperti ketika aku menyentuh kertas dan pena, semua kata ini
hadir satu persatu. Seperti ingin mengatakan isi hati walau tak pernah bisa
mengatakannya. Seperti hendak memberi tahu sesuatu walau tak pernah sempurna
mengungkapkannya.
Ini hanya kumpulan kata sederhana. Kata yang tertulis pun
rasanya begitu kekanakan. Aku hanya ingin membicarakan tentangmu dengan kertas
dan pena ini. Semua temanku mungkin sudah bosan mendengar namamu, karena dalam
setiap pembicaraan, aku selalu mengucapnya. Yah...mungkin mereka bosan, tapi
kertas dan pena tak pernah bosan kan? Mereka adalah para pendengar setia, walau
setiap membicarakanmu, aku tak pernah kehabisan kata untuk kuucapkan. Di depan
kertas dan pena, aku begitu bebas bertutur kata. Aku bisa membicarakan dirimu
selama yang aku bisa, hingga tangan ini terlalu lelah untuk berkata.
Ini tak seperti jika aku berada begitu dekat denganmu. Aku
seperti tak pernah mengenal kata. Atau mungkin, aku tak pernah cukup memiliki
rasa berani. Ah entahlah...
Bal, Aku hanya ingin kau mengerti
Jika suatu saat kau merasa sendiri dan kesepian, aku ingin
kau tahu bahwa diam-diam ada yang peduli denganmu dan memperhatikanmu...
Itu aku...
Your admirer
Iva
Iva
Setetes
air mata jatuh membasahi kertas. Iva tak bisa lagi menahan tangisnya. Pada
kertas berisi kata yang tak pernah sosok itu baca, ia luapkan kesedihannya. Iva
menangis. Lagu yang terdengar lewat earphone tak lagi dipedulikan olehnya. Kali
ini Davichi memeluknya dalam nada, “Because It’s You”.





Komentar
Posting Komentar