PANGEA


Catatan penulis :
Kalian kalo baca cerita yang ditulis sendiri suka malu-malu geli gitu ga sih :")
Gw sampe ga kuat suruh baca ulang
Jadi langsung gw post :")
Selamat membaca
-Dari yang lagi nebeng wifi di perpus

***

Sabtu, 4 Februari 2019       @22:13 WIB
Hi ry. Aku liat Kak Thala kemarin, dan semua yang aku anggap udah selesai, sekarang kembali mengambang di permukaan. Rasa itu masih ada walau hanya seperti setitik debu yang tertinggal di sudut hati yang tak pernah tergapai. Dag dig gug itu masih terasa dan berteriak kepada otakku untuk kembali memutar kenangan yang tak pernah indah, namun mempesona dengan caranya.
Hari itu, aku terus mencuri pandang ke arahnya. Sebuah kebiasaan yang setelah sekian lama, dilakonkan kembali oleh semesta. Aku memperhatikannya tanpa dia tahu di mana aku berdiri, bagaimana aku menatap, dan sekeras apa hatiku berteriak. Selalu, selalu seperti itu. Tapi dengan bodohnya aku tersenyum, karena dia, untuknya.
Dia sudah banyak berubah, namun tetap manis. Dia juga semakin tinggi menjulang. Lalu aku tersadar bahwa aku merindukannya sebanyak yang bahkan aku tak bisa lagi menyebutnya. Harapan pun kembali bermunculan. Mungkin kita akan bertemu lagi suatu hari, lalu saling tersenyum, menyapa, dan mungkin dia selama ini ternyata mencintaiku. Imajinasiku tentu saja. Di tengah-tengah khayalan itu, dia berdiri, lalu meninggalkan tempat duduknya. Ia berjalan menjauh, dan aku hanya bisa menatap punggungnya, tanpa pernah bisa mencegahnya.
Begitulah sebuah cerita yang telah lama selesai kembali diulang oleh alam semesta, dengan akhir yang sama. Akhir yang tak pernah menyelesaikan apa yang muncul di antara awal dan akhir cerita. Ah mungkin aku masih mencintainya.

Gea menutup buku diary-nya setelah membacanya sekali lagi. Empat tahun telah berlalu, tapi berkat kejadian kemarin, hatinya gundah. Kak Thala adalah sosok yang pernah menjadi pusat semestanya. Dia yang membuat masa-masa SMA-nya berwarna. Kak Thala itu, cinta pertamanya. Cinta yang kata orang-orang kekal, selamanya.
Gea pertama kali melihat Thala pada saat MOS. Waktu itu Thala tampil bersama band yang menurut Gea sangat unik. Saat itu Thala bukanlah sang vokalis, gitaris atau drummer, ia justru bermain alat yang bisanya terdapat dalam seperangkat alat gamelan. Kalau tidak salah nama alat itu peking. Sudah Gea bilang, band-nya itu unik. Semacam perpaduan antara alat musik modern dan tradisional. Sambutan murid baru sangat heboh kala itu, dan saat kebanyakan teman barunya berfokus kepada vokalis yang memang sangat tampan, perhatian Gea justru terpusat pada sosok yang akhirnya ia ketahui bernama Thala.
Semenjak saat itu, hitam-putih di hidup Gea berubah begitu saja. Sebagian waktu Gea habis untuk memperhatikan atau mencari tahu tentang Thala, dari kejauhan tentu saja. Gea tak pernah sekalipun berpikir untuk mendekati Thala secara terang-terangan. Tidak terpikir, atau mungkin tidak tahu caranya. Gea hanya tahu ia sangat menikmati waktu di mana ia bisa diam-diam memandang Thala saat upacara, saat Thala sedang olahraga melalui jendela kelasnya, saat sedang di kantin, dan berbagai kesempatan yang mengizinkan Gea melihat Thala.
Lalu suatu hari, kabar itu beredar. Thala memiliki pacar. Namanya Rhea, teman sekelas Thala. Kabar itu membuat Gea berantakan. Hari itu Gea banyak melamun di saat jam pelajaran. Ulangan yang kebetulan dilaksanakan hari itu hampir seluruhnya tidak Gea kerjakan. Gea yang saat itu kehilangan semestanya, seperti tidak lagi memiliki harapan.
Jam istirahat di hari itu ia habiskan untuk memandangi Rhea yang kebetulan ada di kantin, bersama Thala tentu saja. Rhea cantik, cantik sekali. Tatapan matanya teduh, rambutnya tergerai melewati bahu. Ia tinggi dan langsing. Tentu saja, Thala tidak mungkin menyukai Gea yang memiliki wajah biasa saja, warna kulitnya hitam, dan oh, bagaimana bisa ia lupa bahwa tubuhnya ini pendek dan gemuk? Thala tidak mungkin menyukai Gea. BODOH. Gea sungguh bodoh.
Waktu itu Gea tidak mengerti, mengapa saat ingin menyudahi perasaannya, ia justru lebih mencintai Thala. Gea sungguh frustasi, dan berakhir dengan keputusan Gea untuk merubah dirinya. Ia ingin cantik seperti Rhea. Ia ingin dicintai. Ia mulai memakai beberapa produk skincare, ia juga menjalani diet ketat. Tapi beberapa hal seringkali tidak berakhir seperti yang diharapkan. Gea justru terkena tifus, ia harus di opname disaat teman-temannya menjalani ujian akhir semester. Nilainya raport-nya pun buruk. Saat itu, Gea benar-benar terpuruk.
Malam itu, Gea sedang menangis saat kakaknya masuk ke kamarnya. Gea selalu ingat percakapan malam itu, percakapan yang mengubah sudut pandangnya, lalu mengubah dunianya.
“Gea lagi suka sama cowok Mbak,” Gea akhirnya bercerita setelah didesak kakaknya.
“Siapa? Temen sekelas?’
“Bukan Mbak, kakak kelas. Namanya Kak Thala. Tapi dia udah punya pacar. Pacarnya cantik banget Mbak, mereka serasi banget. Tapi Gea nggak suka, nggak ikhlas,” Gea mulai terisak lagi.
“Oh jadi karena itu kamu minta Mbak beliin skincare? Terus kamu diet pake cara yang salah sampe kena tifus?”
Gea hanya mengangguk sambil masih terisak. “Kenapa sih Mbak, Gea terlahir kaya gini? Jelek, item, pendek, gendut pula. Gea nggak suka.”
“Emang siapa yang bilang kalo Gea jelek?”
“Gea lah barusan. Masa Mbak nggak denger.”
“Terus kalo Gea katanya terlahir jelek emang kenapa?”
“Ya Gea nggak suka Mbak, Gea nggak suka diri Gea yang jelek kaya gini.”
“Walau pun Gea terlahir dengan dua mata yang bisa melihat, hidung yang bisa bernafas, telinga yang bisa mendengar, dua tangan, dua kaki, jari-jari lengkap?”
Gea terdiam.
“Gea, bagi beberapa orang, cantik, terutama kecantikan bentuk fisik memang anugerah yang didapat bersamaan dengan kelahiran, dan bagi sebagian yang lain, cantik itu hasil dari usaha. Cantik itu bisa diciptakan Ge, dibentuk. Kamu akan terlihat cantik kalau kamu tahu apa yang kamu mau, ketika kamu paham definisi diri kamu sendiri. Kamu cantik ketika kamu percaya diri, ketika kamu mencintai diri sendiri,”ucap kakaknya malam itu.
Ketukan di pintu kamar mengakhiri lamunan Gea. Suara mamanya kemudian terdengar. “Ge, kayanya ada yang mau donasi buku lagi. Itu orangnya di ruang tamu.”
“Iya Ma, sebentar,” Gea segera merapikan pakaiannya. Komunitas yang diikutinya saat ini ingin membangun taman baca di desa yang terletak di sebuah pulau yang sebenarnya cantik, namun seperti tak terjamah pembangunan. Gedung sekolahnya masih terbuat dari lembaran papan dan terletak di pinggir pantai. Buku-buku sangat terbatas di sana. Oleh karena itu, ia dan teman-temannya menggalang donasi buku bacaan untuk mendirikan taman baca di sana. Gea sangat menyukai kesibukannya yang satu ini. Ia merasa menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama dan entah bagaimana, lebih bahagia.
“Mbak Pangea ya?” sosok laki-laki di ruang tamu itu menyebutkan nama lengkapnya.
“Iya, panggil Gea saja mas.”
“Oh oke Mbak Gea. Saya Paris, saya mau mendonasikan buku-buku bacaan yang ada di rumah. Ada juga beberapa buku untuk anak yang saya beli kemarin.”
Mereka masih berbincang-bincang sebentar sebelum akhirnya sang tamu berpamitan. Gea lalu mengantar tamunya hingga ke pintu gerbang. Setelah sekali lagi mengucapkan terima kasih, tamunya berlalu. Sambil kembali menuju kamarnya Gea berpikir, Thala adalah cinta pertama, luka, dan pengubah sudut pandangnya. Seringkali cinta memang tidak berakhir bahagia. Kamu hanya perlu menerima luka, sekaligus pelajarannya. Cintai dirimu terlebih dulu, karena lebih mudah membagikan cinta setelah kamu merasa cukup dicintai, setidaknya oleh dirimu sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepatah Kata Untuk Rasa Tanpa Suara

DAY

My Story